Selasa, 21 September 2010

PRANATA MANGSA

Jaman dahuku kala rakyat indonesia yang sebagian besar rakyatnya hidup dari pertanian sangat jeli melihat perubahan cuaca/iklim. Hasil dari pengelompokan cuaca/iklim dalam bahasa jawa disebut PRANOTO MONGSO (PRANATA MANGSA). Lebih jelasnya PRANATA MANGSA adalah semacam penanggalan yang dikaitkan dengan kegiatan usaha pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Pranata mangsa berbasis peredaran matahari dan bulan serta siklusnya (setahun) berumur 365 hari (atau 366 hari) serta memuat berbagai aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan usaha tani maupun persiapan diri menghadapi bencana (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu.

Berdasarkan peredaran matahari dan gejala alam itulah para petani dan nelayan kita menentukan waktu yang terbaik untuk kegiatan dibidangnya masing masing. Pranta Mangsa ini juga sangat dikenal oleh dunia luar. Masyarakat dunia (negara yang menguasai iptek tinggi) takjub dengan kemampuan petani dan nelayan indonesia yang bisa berkarya dengan baik hanya berdasarkan pengamatan matahari dan perubahan alam tanpa menggunakan alat alat yang canggih untuk menentukan waktu yang tepat untuk memulai agenda kegiatan pokoknya.

Tapi itu tinggal kenangan. Alam sekarang sudah berubah (baca rusak) penglihatan terhadap peredaran matahari dan bulan serta gejala alam sudah tidak bisa menjadi patokan yang pasti. Pranata Mangsa lama kelamaan sudah sayup sayup terdengar dan terlupakan. Kesaktian Pranata Mangsa sudah berkurang, mungkin sebentar lagi Pranata Mangsa tinggal menjadi kenangan dan hanya jadi bahan cerita ke anak cucu kita.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar